March 23, 2016

Kurikulum

Belajar Kitab Suci merupakan proses belajar yang tidak pernah selesai. Tidak mungkin dalam satu program kursus disampaikan seluruh isi Kitab Suci. Karena itu, dalam setiap program kursus dilakukan pemilihan bahan yang dipandang perlu untuk disampaikan kepada para peserta, sesuai dengan situasi yang dihadapi oleh peserta dan penyelenggara.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka ditetapkan bahwa kurikulum ini terdiri dari 4 (empat) semester dengan struktur perkuliahan  berikut ini.  Nomor kode digit pertama menunjukkan semester yang menyediakan mata ajaran yang bersangkutan (namun, khusus angka 5 bermakna bahwa mata ajaran yang bersangkutan ditawarkan di luar semester 1, 2, 3, atau pun 4).  Nomor kode digit kedua menunjukkan substansi materi mata ajaran, yaitu tafsir, keterampilan, atau spiritualitas.  Nomor kode digit ketiga menunjukkan nomor urut mata ajaran pada semester dan substansi materi yang bersangkutan.

(111) Pengantar Perjanjian Lama. Dalam mata ajaran ini disampaikan hal-hal yang diperlukan untuk membaca dan mempelajari kitab-kitab dan Perjanjian Lama. Pengantar Kitab Suci membantu peserta untuk memahami bagaimana Kitab Suci memuat Sabda Allah yang disampaikan dalam bahasa manusia dan bagaimana memahaminya. Dengan demikian peserta juga diajak untuk melihat tujuan membaca Alkitab dan bagaimana membacanya. Dalam mata ajaran ini peserta juga diajak untuk mengenal kitab-kitab yang termuat dalam Alkitab, pengelompokannya, serta jenis-jenis sastra yang terdapat di dalamnya. Peserta juga diajak untuk mulai masuk dalam dunia Alkitab dengan mengenal geografi, adat istiadat, hidup keagamaan, dan sejarah umat Allah dalam Perjanjian Lama. Selain itu, peserta juga perlu diajak untuk memahami beberapa pokok teologi yang mewarnai Perjanjian Lama beserta perkembangan pemahaman mengenai pokok-pokok tersebut.

(112)  Pengantar Perjanjian Baru. Demikian juga mata ajaran Pengantar Perjanjian Baru ditujukan untuk membantu peserta untuk memahami hal-hal yang diperlukan untuk mempelajari kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Di dalamnya peserta diajak untuk memasuki dunia Perjanjian Baru, lengkap dengan geografi, adat-istiadat, hidup keagamaan, dan sejarah penyebaran Injil. Perlu juga disampaikan beberapa pokok teologi, yang perlu diketahui untuk lebih memahami isi Perjanjian Baru.

(113) Dasar-dasar Teologi Kitab Suci.  Para peserta juga perlu diajak untuk memahami teologi Katolik. Tentu saja tidak semua hal dalam teologi perlu disampaikan. Tetapi, mereka perlu memahami pokok-pokok iman yang keyakinan Katolik dengan baik. Syahadat Para Rasul yang sejak lama mengungkapkan pokok-pokok keyakinan itu kiranya dapat mewakili tema-tema yang perlu dipahami oleh setiap orang Katolik. Dalam mata ajaran ini peserta diajak untuk memahami pokok-pokok iman itu dan pendasaran alkitabiahnya sehingga tidak hanya memahami tetapi juga dapat menerangkannya untuk orang lain.

(211) Taurat. Pada garis besarnya Taurat memuat kisah, mulai dari kisah penciptaan sampai dengan menjelang masuknya bangsa Israel ke Kanaan, dan hukum yang mengatur kehidupan orang Israel. Dalam mata ajaran ini para peserta diajak untuk mendalami kisah penciptaan, kisah para bapa bangsa (Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf), kelahiran bangsa Israel di Mesir, perjalanan di padang gurun, serta hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, baik hukum keagamaan maupun hukum sipil.

(212) Injil Markus. Keempat Injil menyampaikan kisah hidup dan ajaran Yesus. Tiga di antaranya (Matius, Markus, dan Lukas) disebut Sinoptik karena isi dari ketiga Injil tersebut dapat dilihat berdampingan (syn = bersama) dan (opsis = melihat). Umum diterima bahwa Markus adalah yang pertama ditulis dan menjadi sumber penulisan untuk kedua injil lain. Karena itu, Injil Markus perlu dipelajari lebih dahulu dan secara terpisah.

(213) Kitab-kitab Sejarah. Kitab-kitab Sejarah ditulis untuk menunjukkan keterlibatan Allah dalam perjalanan sejarah Bangsa Israel. Kitab-kitab ini terdiri dari empat kelompok, yakni:

Kitab Sejarah Deuteronomis (Yosua, Hakim-hakim, 1-2Samuel, 1-2Raja-raja). Kitab-kitab ini bisa dikatakan sebagai lanjutan dari kisah yang disampaikan di dalam Taurat. Di dalamnya disampaikan pendudukan Tanah Kanaan (Yosua), kehidupan Israel di Tanah Kanaan dan pergumulannya untuk setia kepada Allah (Hakim-hakim), peralihan ke zaman kerajaan (Samuel dan Saul), masa kejayaan (Daud dan Salomo), perpecahan kerajaan, sampai dengan kehancuran dari kedua kerajaan itu.

1-2Tawarikh, Ezra, Nehemia. Kitab-kitab 1-2Tawarikh, Ezra, dan Nehemia menuliskan kembali sejarah Israel, mulai dari Adam, sampai dengan perjalanan sejarah kehidupan orang Yehuda yang kembali dari pembuangan Babel.

Novel (Rut, Ester, Tobit, Yudit). Keempat novel ini menyampaikan pesan dalam bentuk cerita sesuai dengan zaman penulisan masing-masing.

1-2Makabe. Kedua kitab ini menceritakan perjuangan orang Yahudi ketika harus mempertahankan iman mereka berhadapan dengan pemaksaan budaya Yunani.

Dalam satu semester bahan yang dapat dipelajari terutama adalah Kitab Sejarah Deuteronomis. Yang perlu dipelajari adalah perjalanan sejarah Israel dan bagaimana Allah terlibat di dalamnya.

(311) Kitab-kitab Para Nabi. Para nabi menyampaikan kehendak Allah untuk orang Israel pada zaman mereka. Zaman pewartaan para nabi dapat dibagi menjadi empat: Abad VIII SM, Sebelum Pembuangan, Pembuangan, dan Sesudah Pembuangan. Dalam menyampaikan kehendak Allah itu, para nabi seringkali mempergunakan puisi. Dalam mata ajaran ini para peserta diajak untuk mendalami situasi yang dihadapi oleh para nabi dan pesan yang mereka sampaikan. Tentu saja tidak mungkin mempelajari seluruh kitab para nabi. Karena itu, dapat diambil nabi-nabi yang tertentu yang bekerja pada keempat zaman itu. Abad VIII SM: Amos, Hosea, dan Proto-Yesaya. Sebelum Pembuangan: Yeremia. Pembuangan: Yeheskiel dan Deutero Yesaya. Sesudah Pembuangan: Hagai dan Zakharia. Tetapi, tetap tidak mungkin untuk mempelajari setiap perikop yang terdapat dalam kitab-kitab yang telah dipilih itu. Karena itu, untuk setiap nabi yang dipilih yang perlu disampaikan adalah perikop-perikop yang mengungkapkan gagasan pokoknya.

(312) Proto Paulinum. Dalam Perjanjian Baru ada tiga belas surat yang ditulis atas nama Paulus. Dari ketiga belas surat itu, tujuh di antaranya benar-benar ditulis oleh Paulus (1Tes., Gal., 1-2Kor., Flp., Flm., dan Rm). Paulus menulis surat itu untuk menanggapi berbagai persoalan yang dihadapi oleh jemaat yang didirikannya karena ia sendiri tidak dapat hadir dan berbicara langsung kepada mereka. Hanya surat kepada Jemaat Roma yang ditulis bukan untuk menanggapi masalah. Dalam mata ajaran ini pertama-tama perlu disampaikan riwayat hidup Paulus, spiritualitas, dan pokok teologi yang terdapat dalam surat-suratnya. Sesudah itu, perlu disampaikan pendalaman setiap surat dengan memperhatikan latar belakang penulisan surat (persoalan yang dihadapi Jemaat) dan hal-hal pokok yang disampaikan dalam surat tersebut.

(313) Deutero Paulinum dan Surat-surat Katolik. Walaupun mencantumkan nama Paulus sebagai pengirim surat, enam surat dalam Perjanjian Baru tidak berasal dari Paulus. Para penulis surat itu adalah orang-orang yang sungguh mengenal ajaran Paulus dan memiliki semangat yang sama dengannya: mereka adalah para penerus Paulus. Sebagai pemimpin umat, mereka harus berhadapan dengan berbagai situasi dan mereka menanggapinya menurut kebenaran yang telah mereka terima dari para rasul lalu menerapkannya dalam kenyataan yang sedang mereka hadapi. Dalam mata ajaran ini para peserta diajak untuk mendalami bagian-bagian yang dapat dianggap penting untuk pemahaman iman akan Kristus dan perkembangan Gereja.

Surat-surat Katolik mencakupi tujuh tulisan dalam Perjanjian Baru, yaitu Yakobus, 1-2Petrus, 1-3Yohanes, dan Yudas. Sejak semula surat-surat ini diberi judul dengan memakai nama pengirimnya dan bukan nama penerimanya seperti surat-surat Paulus. Mungkin karena surat-surat ini tidak membicarakan masalah-masalah khusus, tetapi lebih-lebih membahas hal-hal yang bersifat umum atau ditujukan kepada seluruh Jemaat, bukan kepada Jemaat tertentu. Banyak hal yang dapat dipelajari dalam surat-surat ini dan setiap surat memiliki berbagai tema yang khas. Ke dalam kelompok surat ini dapat ditambahkan Surat Ibrani, yang menyampaikan tema yang penting dalam pemahaman mengenai Kristus sebagai Imam Agung.

(411) Hikmat dan Mazmur. Dalam Perjanjian Lama ada lima kitab yang berisi pengajaran tentang hikmat, yaitu Amsal, Ayub, Pengkhotbah, Bin Sira, dan Kebijaksanaan Salomo. Kitab-kitab hikmat membicarakan seluk beluk kehidupan manusia dengan berbagai persoalan yang dihadapinya. Selain itu, juga disampaikan tujuan kehidupan manusia dan bagaimana seharusnya menjalani kehidupan di dunia ini. Kalau kita memperhatikan isi setiap kitab, akan tampak adanya perkembangan dan dialektika di antara kitab-kitab itu. Amsal mengajak orang untuk menjadi bijak (benar dan saleh) dan memperoleh kebahagiaan (umur panjang dan kekayaan). Ayub mempertanyakan hal itu karena kenyataan menunjukkan bahwa ada orang benar yang mengalami penderitaan. Pengkhotbah juga mempertanyakan hal itu karena kehidupan manusia (baik atau jahat, bijak atau bodoh) pasti berakhir dengan kematian. Kebijaksanaan Salomo menjawab semua masalah itu dengan menyampaikan keyakinan akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Yesus Bin Sira yang tampaknya tidak begitu “terlibat” di dalam dialektika tersebut, tetapi menyampaikan banyak gagasan yang penting untuk dipelajari.  Mata ajaran kitab-kitab hikmat membantu para peserta untuk mendalami setiap kitab dan memahami gagasan-gagasan pokok yang disampaikan di dalamnya.

Kitab Mazmur merupakan kumpulan dari 150 nyanyian keagamaan Israel. Kitab Mazmur merupakan hasil karya banyak orang yang berasal dari berbagai zaman. Tetapi, tidak dapat ditentukan siapa saja yang terlibat dalam penciptaan mazmur-mazmur yang ada di dalamnya. Menurut gaya sastranya mazmur-mazmur dapat dibedakan dalam tiga jenis, yaitu pujian, permohonan, dan syukur. Walaupun demikian, ada mazmur yang tidak dapat dimasukkan dalam satu di antara ketiga kelompok ini dan ada yang justru bisa dimasukkan ke dalam dua kelompok sekaligus. Dalam mata ajaran mazmur para peserta diajak untuk memahami ketiga jenis mazmur itu dengan contoh-contohnya.

(413) Injil Matius & Injil Lukas. Baik Matius maupun Lukas memiliki kekhasan bila dibandingkan dengan Markus. Para peserta perlu diajak untuk melihat perbedaan itu untuk menemukan kekhasan setiap injil. Dalam mata ajaran ini para peserta bisa diajak untuk secara khusus mempelajari bagian-bagian yang tidak terdapat dalam Injil Markus. Misalnya, kisah masa kanak-kanak (Matius dan Lukas), khotbah di bukit (Matius) dan khotbah di tanah datar (Lukas), dan perumpamaan yang hanya terdapat dalam Injil Lukas.

(412) Injil Yohanes & Kisah Para Rasul. Injil ini memiliki banyak perbedaan, baik jalan cerita, gaya bahasa, maupun teologi, dengan ketiga injil lain sehingga perlu dipelajari secara terpisah. Para peserta perlu diajak untuk memahami kekhasan injil ini. Untuk itu perlu disampaikan isi injil ini secara keseluruhan dan teks-teks yang mengungkapkan gagasan-gagasan pokok di dalamnya.

Kisah Para Rasul tidak dimaksudkan untuk menyampaikan kisah tentang dua belas rasul Yesus, tetapi mengisahkan pribadi-pribadi yang terlibat dalam karya pewartaan Injil. Mereka inilah yang disebut rasul dalam pengertian yang lebih luas. Di dalamnya disampaikan perjalanan pemberitaan Injil, mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Melalui mata ajaran ini para peserta diajak untuk menelusuri karya pemberitan Injil dan keterlibatan Tuhan di dalamnya.

 (414) Wahyu dan Daniel. Perkembangan Gereja dan pewartaan Injil harus berhadapan dengan kenyataan yang pahit. Para anggota Jemaat harus menghadapi berbagai penganiayaan baik yang dilakukan oleh penguasa maupun oleh masyarakat pada umumnya. Mereka harus berjuang untuk tetap setia pada iman di tengah penderitaan. Berhadapan dengan situasi seperti ini, para gembala Jemaat menunjukkan bagaimana harus beriman di tengah penderitaan dan memberikan penghiburan kepada mereka. Kitab Wahyu memberikan gambaran tentang penganiayaan yang dihadapi oleh Jemaat dan bagaimana gembala Jemaat memberikan penghiburan kepada para anggota Jemaat dan meneguhkan iman mereka. Bersama dengan Kitab Wahyu juga dipelajari Kitab Daniel yang memiliki jenis sastra yang sama, yakni Sastra Apokaliptik.

 (511)  Topik Khusus Tafsir Kitab Suci.  Mata ajaran ini dimaksudkan sebagai pelengkap untuk membekali peserta khususnya dalam hal Tafsir Kitab Suci.  Materinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan kontemporer.  Jadwal penyelenggaraannya di luar jadwal reguler, misalnya dalam masa liburan di antara dua semester.  Bentuk penyampaiannya dapat berupa seminar, lokakarya, atau bentuk lainnya.  Pengajarnya dapat berasal dari luar Tim Pengajar KPKS.

(221) Membaca Kitab Suci secara Pribadi & Memimpin Kelompok Kitab Suci.  Dalam mata ajaran ini para peserta diajak untuk mempelajari bagaimana memahami apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, menangkap pesan yang disampaikan dan memahami bagaimana pesan itu dapat diterapkan dalam kehidupan, dan menyusun doa sebagai tanggapan terhadap pesan Tuhan yang tercantum di dalam Kitab Suci. Peserta dibiasakan untuk menuangkan hasil pendalaman itu secara tertulis: membiasakan diri untuk mengungkapkan gagasan secara terstruktur, dengan kalimat yang jelas dan dapat dipahami dan hasilnya dapat dievaluasi dan terdokumentasi.

Ketika diajak untuk memahami apa yang tertulis dalam teks Kitab Suci, para peserta dibantu untuk mendalami teks menurut jenis sastranya (cerita, puisi, surat) dan berlatih menggunakan buku-buku sumber (tafsir, ensiklopedi, peta, dan sebagainya). Cara membaca Kitab Suci secara pribadi ini sekaligus dapat menjadi persiapan untuk belajar tafsir di semester berikut: peserta mengetahui apa yang harus dipelajari dalam mata ajaran tafsir dan sebaliknya, peserta dapat. Memanfaatkan pengetahuan yang didapat dalam kursus untuk memahami apa yang tertulis dalam Kitab Suci.

Selain itu, cara kerja sekaligus bahan yang diperoleh dalam pembacaan Kitab Suci secara pribadi ini dapat menjadi dasar untuk menyusun homili, bahan pengajaan, dan Pendalaman Kitab Suci. Sebelum menjelaskannya kepada umat, ia harus lebih dahulu mendengarkan Sabda Allah yang hendak diwartakannya. Kalau tidak, ia hanya akan mewartakan Sabda Allah secara lahiriah tanpa mendengarkannya secara batiniah dan hal ini akan membuat homili menjadi amat menjemukan (St. Agustinus, Sermo 179,1: PL 8, 399).

Kelompok Kitab Suci dapat disebut sebagai komunitas yang berkumpul di dalam Sabda. Di dalamnya kelompok orang beriman bersama-sama membaca dan mendalami Sabda Allah yang tertulis di dalam Kitab Suci, memahami kehendak Allah yang dinyatakan di dalamnya, dan menanggapinya dalam doa, sehingga pada akhirnya dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah. Banyak orang tidak memahami pentingnya Sabda Allah. Akibatnya, Kelompok Kitab Suci seringkali diadakan karena terpaksa atau semata-mata memenuhi kewajiban, bukan karena kerinduan untuk berkumpul sebagai komunitas orang beriman, bukan pula karena kerinduan untuk mendengarkan Sabda Allah.

Dalam Kelompok Kitab Suci diperlukan fasilitator, yang dapat memandu pendalaman Kitab Suci dalam kelompok tersebut. Memang ia tidak perlu ahli Kitab Suci, tetapi suka membaca Kitab Suci dan merenungkannya. Sebelum pertemuan, ia perlu mempersiapkan bahan yang akan dibahas, menentukan metode yang akan dipergunakan. Dalam pertemuan ia perlu menghidupkan suasana, membantu para peserta untuk menggunakan metode tertentu, dan mengatur jalannya pertemuan. Fasilitator perlu membangkitkan suasana pertemuan agar menjadi pertemuan yang menggembirakan tetapi sekaligus penuh makna sehingga pertemuan itu benar-benar menjadi kesempatan untuk berjumpa dengan Tuhan. Dengan cara demikian, seluruh peserta dapat mencapai tujuan yang diharapkan dalam pertemuan ini.

(322)  Homiletika.  Homili merupakan pewartaan sabda Allah yang bertolak dari Kitab Suci dengan tujuan agar umat dapat mendalami Sabda Allah sehingga membuahkan hasil dalam kehidupan. Melalui homili pemimpin jemaat berusaha menjelaskan misteri keselamatan yang diwartakan sehingga menjadi relevan dan memberikan daya hidup yang lebih segar bagi umat yang sedang berkumpul (Pedoman Pastoral Perayaan Sabda). Dari homili umat dapat mengharapkan dua hal ini: memahami makna Sabda Allah yang dibacakan dan bagaimana Sabda itu harus dilaksanakan dalam kehidupan yang nyata.

Mengingat pentingnya homili, mereka yang bertugas berhomili berkat pelayanan khusus hendaknya mengemban tugas ini sepenuh hati (Verbum Domini 59). Mereka perlu selalu dekat dan terus-menerus berhubungan dengan Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci (Dei Verbum 25). Mereka hendaknya mempersiapkan homili dengan meditasi dan doa, sehingga dapat berhomili dengan keyakinan dan semangat. Orang yang mengemban tanggung jawab dalam pewartaan Sabda Allah pertama-tama harus mendengarkannya secara pribadi. Sebelum menjadi pewarta Sabda mereka harus terlebih dahulu mendengar Sabda. Mereka harus mengembangkan pergaulan dengan Sabda Allah: membina keakraban dengan Sabda Allah dengan rajin membaca dan merenungkannya.

(521)  Topik Khusus Keterampilan Pewartaan Kitab Suci.  Mata ajaran ini dimaksudkan sebagai pelengkap untuk membekali peserta khususnya dalam hal Keterampilan Pewartaan Kitab Suci.  Materinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan kontemporer.  Jadwal penyelenggaraannya di luar jadwal reguler, misalnya dalam masa liburan di antara dua semester.  Bentuk penyampaiannya dapat berupa seminar, lokakarya, atau bentuk lainnya.  Pengajarnya dapat berasal dari luar Tim Pengajar KPKS.  Mata ajaran ini tidak bersifat wajib.

(131)  Iman Katolik dan Spiritualitas Kerasulan Kitab Suci.  Dalam mata ajaran ini para peserta diajak untuk melihat perkembangan pembacaan Kitab Suci di dalam Gereja Katolik, dengan menempatkan Konsili Vatikan II sebagai titik balik perkembangan itu. Dalam rangka itu perlu ditegaskan berbagai pembaruan yang dibuat oleh Konsili. Berangkat dari pembaruan itu, para peserta diajak untuk melihat situasi sekarang, bagaimana umat Katolik membaca Kitab Suci, usaha yang perlu dilakukan untuk memperbaiki situasi, dan perlunya orang-orang yang mau terlibat di dalam usaha tersebut. Mengingat berbagai tantangan yang harus dihadapi, para peserta juga perlu diajak untuk mendalami spiritualitas pelayan sabda, dengan belajar dari tokoh-tokoh Alkitab.

(531) Retret Perutusan.  Dalam retret para peserta diajak untuk menimba semangat bagaimana harus menjadi seorang pewarta Sabda Allah. Selain itu, mereka juga diajak menyadari bahwa Allah yang memberikan tugas ini. Dialah yang telah memanggilnya untuk membawa sabda Allah kepada sesama dan membawa sesama kepada Sabda Allah itu. Retret juga menjadi kesempatan untuk membina hubungan pribadi dengan Allah yang mengutus. Dalam hal ini baiklah ia juga menyadari bahwa setia melaksanakan kehendak Allah adalah motif utama yang menggerakkan karya pewartaannya dan bahwa Tuhan menyertainya dalam karya pelayanan ini. Seorang pelayan sabda tidak bekerja untuk diri sendiri, tetapi untuk umat Allah. Allah adalah Allah yang bertanggung jawab: Ia tidak hanya mengutus tetapi juga memberikan perlengkapan untuk melaksanakan tugas itu.

Mata ajaran ini wajib diikuti oleh peserta KPKS yang telah menyelesaikan empat semester dan dianjurkan diikuti peserta-peserta lainnya.  Retret dipimpin oleh rohaniwan (lazimnya seorang imam/pastor), diselenggarakan di tempat khusus pada akhir semester genap, selama tiga hari dua malam (lazimnya dimulai pada hari Jumat sesudah jam makan siang, diakhiri pada hari Minggu berikutnya sesudah jam makan siang).

(532)  Topik Khusus Spiritualitas Kerasulan Kitab Suci.  Mata ajaran ini dimaksudkan sebagai pelengkap untuk membekali peserta khususnya dalam hal Spiritualitas Kitab Suci.  Materinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan kontemporer.  Jadwal penyelenggaraannya di luar jadwal reguler, misalnya dalam masa liburan di antara dua semester.  Bentuk penyampaiannya dapat berupa seminar, lokakarya, atau bentuk lainnya.  Pengajarnya dapat berasal dari luar Tim Pengajar KPKS.  Mata ajaran ini tidak bersifat wajib.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *